Disini,.. di sudut pertama ini, semuanya terjadi,..
orang-orang melakukan apapun yang membuat hidup mereka nyaman.
Tak nyaman dengan taman yang kotor?
Gampang, tinggal sapukan saja ke halaman tetangga. Kan tetangga kita baik,..
Tak punya uang?
tinggal ke pasar saja, banyak orang-orang kaya yang bisa dirampok disana,..
Disini juga,..
banyak alasan untuk berjudi,
banyak alasan untuk menindas orang lain
tinggal pilih saja alasan mana yang disenangi
khamar?
ah, tak perlu naif lah,...
apa yang ditakutkan?
takut mati dan masuk neraka?
Hei, kau masih muda bung. Nanti juga kau masih bisa bertobat dan meminta kepada Tuhan agar kau dimasukkan ke dalam surga saja,..
*******
ya,.. disudut sini
Bulir-bulir airmata hanya terjatuh dari wajah-wajah yang tertindas,..
alasannya?
yah, karena kalah berjudi, karena uang dirampok dan alasan-alasan kesedihan lainnya.
Disudut sini mereka meneteskan airmata,..
Menangis,..
Eh,.
Tapi sebentar,..
Coba lihat disudut sana, sudut kedua itu!
Astaghfirullah, ternyata dinegeri yang tenang ini lebih banyak yang menangis. Ibu-ibu, anak kecil, bahkan banyak laki-laki dewasa juga menangis,...
Masya Allah, Separah inikah ya Tuhan? seburuk inikah keadaannya?
Apa sebenarnya yang sedang terjadi dinegeri yang setenang ini?
'Itu, disana ada orang. baiknya aku bertanya'
"assalamualaikum, maaf pak boleh saya bertanya"
terlihat laki-laki itu memalingkan mukanya sebentar, sembari mengusap matanya yang sedari tadi tak kering-kering.
"ya, ada apa anak muda"
"saya ingin bertanya, kenapa dinegeri setenang ini orang-orangnya juga menangis seperti negeri yang pertama kali saya temui. kalau dinegeri itu, saya bisa mengerti kenapa mereka menangis, tapi dinegeri ini?"
"anak muda, coba kau lihat saudagar kaya bertubuh tambun itu. Setiap akan menutup tokonya yang menurutku tak ada tandingannya dinegeri ini, aku lihat dia selalu menitikan airmata. Apa menurutmu orang sekaya itu menangis karena kalah berjudi?,..... sekali waktu, aku pernah bertanya alasan dia menangis dan saat itu dia menjawab 'hari ini aku membiarkan seorang pengemis pergi dari tokoku dengan tangan kosong'"
'astaghfirullah,... aku beristighfar dalam dada dan mencoba memalingkan muka agar si tuan ini tak melihat mataku yang saat itu sudah berbayang karena tertutupi cairan hangat itu.
"kenapa kau palingkan mukamu anak muda? tak ingin aku melihatmu menangis juga? sudahlah, aku tak kan membuatmu penasaran. Datanglah ke negeri kami esok hari, dan buktikan sendiri ucapanku. Assalamualaikum"
si pak tua itu beranjak pergi, setelah sebelumnya ia menepuk pundakku.
yah, keesokan harinya sudah aku buktikan. kau tahu apa yang aku dapatkan :
Bersambung,.....
Kamis, 12 Mei 2011
Kamis, 21 April 2011
pohon di hati Ammar dan Bilal
Hari itu, diketahui lagi. Ternyata seorang pemuda bernama Ammar sudah masuk ke agama Muhammad. Hal ini membuat telinga keluarga Abu Sufyan (salah satu pemimnpin saat itu) semakin memerah. Pemuda tersebut ditangkap dan dihakimi didepan keluarga Abu Sufyan. Gentar? Takut?. Mungkin tidak untuk saat itu. Beliau malah mendeklarasikan diri. Memperkenalkan Muhammad dan Memperkenalkan ayat-ayat Al Quran.
Ah, kelakuannya semakin membuat Abu Sufyan naik pitam. Hukuman cambuk pun ditetapkan. Seorang budak hitam, ditugaskan sebagai algojo dalam hukum cambuk ini. Tapi ternyata bukan keputusan yang tetap memilih budak hitam ini. Dialah Bilal. Alih-alih memberikan hukuman cambuk kepada Ammar. Dia malah melempar cambuknya dan hampir menitikkan airmata. Ya, Bilal ternyata seorang muslim dan tak tega melihat saudaranya disakiti. Akhirnya, sang algojo pun tak luput dari siksa Abu Sufyan dan Hindun, istrinya.
Dijemur dibawah teriknya matahari gurun pasir.
“Ahad”.
Dicambuk dalam kondisi tanpa pakaian.
“Ahad”.
Hingga ditindihkan batu besar didadanya, agar ia mau meninggalkan Muhammad. Tapi, lagi-lagi hanya… “Ahad”
(***Hai Bilal, Tauhidmu itu.. Sungguh menyinggung perasaan kami. Jika engkau masih hidup, entah apa komentarmu tentang tauhid kami)
Sampai akhirnya Bilal dibeli oleh Abu Bakar.
Oh, sebentar. Kemana Ammar??.
Ammar. Tak berani aku membayangkan kisahnya setelah kejadian itu. Ammar dan keluarganya disandera oleh Abu Jahal dan antek-anteknya. Mereka dipaksa kembali ke berhala-berhala mereka. Tapi engkau tahu apa komentar Ammar dan keluarganya? Komentar mereka…. ‘Lailaha ilallah’… ya, hanya itu.
sampai akhirnya sang ayah dan bunda harus meregang nyawa didepan matanya.
(***Semoga keselamatan terlimpah kepadamu wahai keluarga Ammar)
Aaah, lihatlah itu… didikan Muhammad.
Tauhid sudah mengakar kuat dihati-hati mereka..
Sudahlah,.. kalian tak kan mampu mencabut pohon Tauhid itu lagi dari hati mereka.
Tapi, silahkan saja jika kalian masih penasaran, dengan syarat jangan salahkan siapapun jika akhirnya kalian akan terjengkang sendiri karena kelelahan.
Jumat 22 April 2011
00.17
@ kamar kosan geger suni, Bandung.
Langganan:
Postingan (Atom)
